Aspergillus spp. pertama kali dilaporkan di Turki pada tahun 1960, kacang

tanah yang diimpor dari Brasil tertular berat dan menyebabkan kerugian

yang besar bagi usaha tanaman kacang tanah dan toksinnya pada waktu

itu diberi nama aflatoksin (Swindale 1987). Aspergillus spp. kemudian

dilaporkan di banyak negara, dan menjadi kendala, terutama dalam kualitas

biji-bijian sebagai bahan pangan dan pakan. Christensen dan Meronuck

(1986) melaporkan bahwa dari 33 spesies yang ditemukan, A. flavus dan A.

farasiticus adalah cendawan yang mempunyai kesamaan yang erat dan

menginfeksi biji-bijian dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Dari beberapa spesies Aspergillus spp., A. flavus teridentifikasi sebagai

penyakit penting yang menginfeksi biji jagung. Inang utama A. flavus adalah

jagung, kacang tanah, dan kapas. Penyakit ini mempunyai banyak inang

alternatif, sekitar 25 jenis tanaman, khususnya padi, sorgum, dan kacang

tunggak (CAB International 2001). Pakki dan Muis (2006) melaporkan bahwa  A. flavus ditemukan pada fase vegetatif dan generatif tanaman, serta

pascapanen jagung.

Pada jagung, gejala Aspergillus spp. ditandai cendawan berwarna hitam,

(spesies A. niger) dan berwarna hijau (A. flavus). Infeksi A. flavus pada

daun menimbulkan gejala nekrotik, warna tidak normal, bercak melebar

dan memanjang, mengikuti arah tulang daun. Bila terinfeksi berat, dan

berwarna coklat kekuningan seperti terbakar. Gejala penularan pada biji

dan tongkol jagung ditandai oleh kumpulan miselia yang menyelimuti biji

(Gambar 1A). Hasil penelitian Pakki dan Muis (2006) menunjukkan adanya

miselia berwarna hijau dan beberapa bagian agak coklat kekuningan. Pada

klobot tongkol jagung, warna hitam kecoklatan umumnya menginfeksi

bagian ujung klobot, perbedaan warna sangat jelas terlihat pada klobot

tongkol yang muda.

Bentuk konidia bulat sampai agak bulat umumnya menggumpal pada

ujung hipa (Gambar 1B) berdiameter 3-6 μm, sklerotia gelap hitam dan

kemerahan, berdiameter 400-700 μm. Konidia A. flavus dapat ditemukan

pada lahan pertanian. Pada areal pertanaman kapas, A. flavus ditemukan

lebih dari 3.400 koloni/g tanah kering, dan pada area lahan pertanaman

jagung 1.231/g tanah kering (Shearer et al. 1992). Keadaan ini menggambarkan

bahwa populasi koloni pada media tumbuh jagung dapat menjadi

sumber inokulum awal untuk perkembangannya. Perkembangan sklerotia

dari tanah sampai mencapai rambut jagung hanya dalam tempo 8 hari

(Wicklow et al. 1984).